Kota
Sorong,PW: Dalam beberapa hari ini, Kota Sorong dalam
situasi yang mencekam. Situasi yang mencekam ini, khususnya dirasakan seputar
pantai tembok berlin dan lapangan hokky Kota Sorong. Kondisi ini menyebabkan
masyarakat yang menggunakan rute arah kampung baru dan rufei maupun sebaliknya,
tidak dapat melalui rute tersebut. Masyarakat harus berbelok arah melewati
puncak arfak, agar tidak melewati pantai tembok berlind dan lapangan hokky. Ketakutan
warga dikarenakan disekitar pantai tembok berlin dan lapangan hokky, beredar
kabar bahwa ada 5 orang terduga teroris menyanera masyarakat dan bersembunyi
disana. Bahkan kabar yang lain menyebutkan bahwa mereka (teroris) sering
mengintimidasi masyarakat sekitar. Kabar penyanderaan terduga teroris ini,
sudah dilaporkan kepada pihak yang berwajib. Laporan tersebut diresponi
Komandan Yonmarhanlan XIV Letkol Mar
Hariyono Masturi S.Tr (Han) M.Tr (Hanla).
Melalui Pasi Ops Yonmarhanlan XIV Kapten Mar William David Halley, Danyonmarhanlan XIV memerintahkan
agar segera melakukan tugas operasi pembebasan sandera dan penumpasan terhadap
terduga teroris tersebut. Pada kamis (161117) dikerahkanlah 20 Marinir melaksanakan operasi Raid Amphibi
untuk membebaskan sandera. Menggunakan 4 perahu karet, 20 marinir ini mendekati
sasaran melalui pantai tembok berlin. Pergerakan Marinir yang senyap ini, tidak
di sadari oleh para terduga teroris. Marinir yang tergabung dalam operasi raid
amphibi ini, berpencar dan mengepung lokasi yang menjadi tempat persembunyian
para terduga teroris. Setelah hampir sejam mengamati, operasi pembebasan
sandera dilakukan. Namun operasi yang dilakukan tidak semudah yang dibayangkan,
karena para terduga teroris melakukan perlawanan dengan menggunakan senjata
api.
Sehingga baku tembak tidak dapat dihindari. Beruntung,
sandera dapat dibebaskan. Hampir sejam terjadi saling tembak, akhirnya para
terduga teroris dapat dilumpuhkan. Dimana 3 orang terduga teroris tewas
ditempat, sedangkan 2 orang lainnya terluka parah akibat terkena tembakan dan
dilarikan ke RSAL Kota Sorong. Selanjutnya anggota Marinir yang tergabung dalam
operasi raid amphibi tersebut, mendapatkan perintah agar kembali ke markas.
Operasi raid amphibi ini dilakukan sebagai demonstrasi penumpasan teroris, yang
dilakukan oleh 20 taruna Akademi Angkatan Laut (AAL) yang tergabung dalam
Satlat Jalayudha Taruna AAL Tingkat IV Angkatan 63 Tahun 2017. Demonstrasi
operasi raid amphibi ini, disaksikan langsung oleh Wakil Gubernur Akademi
Angkatan Laut (Wagub AAL) Brigadir Jenderal TNI (Mar) Suhono serta Komandan Lantamal XIV Brigjen TNI (Mar) Amir Faisol S.Sos.
Kegiatan ini dalam rangka
kunjungan dari Satlat Jalayudha Taruna AAL
Tingkat IV Angkatan 63 Tahun 2017 yang singga di Kota Sorong, dengan menumpangi
KRI Teluk Ende517 dan KRI Abdul Halim Perdanakusuma 355. Danlantamal XIV kepada
awak media, menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah praktek dari para taruna
yang teorinya sudah didapat selama pendidikan. “Demonstrasi hari ini adalah
pendaratan amphibi atau raid amphibi, yang dilakukan oleh taruna jurusan dari
Marinir. Yang diperagakan diawali dari kapal dengan menggunakan peralatan khusus,
dengan tujuan merebut sasaran dan kembali lagi”, jelas Danlantamal XIV. “Kedatangan
para taruna/i AAL ini sebagai promosi keberadaan TNI AL dan menjadi alat
kampanye kepada putra/i daerah, yang ingin masuk menjadi anggota TNI AL”,
tambah Danlantamal XIV. Namun Danlantamal XIV menghimbau agar putra/i daerah agar
menyiapkan diri jika ingin masuk TNI, dengan menjaga kondisi fisik dan
kesehatan.
*Jacob Sumampouw
