![]() |
| Kapolda Papua Barat Brigjen Pol Rudolf Albert Rodja, foto bersama narasumber |
Sorong,PW: Sebagai bagian dari rangkaian peringatan hari
kesatuan gerak Bhayangkari ke 65, Polda
Papua Barat menyelenggarakan
lokakarya “ Komitmen Polisi dan Bhayangkari Papua Barat terhadap Perlindungan Perempuan dan Anak”. Mengingat masih tingginya angka
kekerasan terhadap perempuan dan
anak di Papua Barat, ibu-ibu
Bhayangkari diharapkan bisa ikut mensosialisasikan keadilan gender di
lingkungan sekitarnya, termasuk
mencegah dan mengatasi kekerasan terhadap perempuan, baik dirumah tangga maupun di lingkungan kerja. Peserta Lokakarya adalah anggota
Bhayangkari Papua Barat dan perwakilan anggota polisi dari sembilan polres di
Papua Barat.
“Lokakarya
ini bertujuan memberikan pengetahuan kepada anggota polisi dan Bhayangkari
tentang kekerasan terhadap perempuan dan anak, sehingga pada akhirnya tercipta lingkungan yang semakin ramah
perempuan dan anak di seluruh Papua Barat”, kata Kapolda Papua Barat Brigjen
Pol Rudolf Albert Rodja. Ketua
Bhayangkari Polda Papua barat Josefina
Purnawirati Rodja, mengatakan para anggota Bhayangkari di Papua Barat
yang sangat banyak bisa menjadi agen perubahan di tengah masyarakat, sehingga warga masyarakat semakin
terlibat dalam mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak. Atas keprihatinan selalu meningkatnya
angka Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak, maka Bhayangkari menggandeng Padepokan Perempuan GAIA. Padepokan Perempuan GAIA adalah
Organisasi Perempuan berbasis di Yogyakarta yang selama 21 tahun telah
melakukan advokasi dan pelatihan terkait Pemberdayaan dan Perlindungan
Perempuan Indonesia.
Narasumber
pelatihan adalah Sarwitri, mantan staff Komnas Perempuan dan Birgitta Elna, pengacara dan pegiat perempuan yang keduanya aktif sebagai di
organisasi Padepokan Perempuan GAIA. Menurut
Sarwitri, kasus kekerasan fisik
dan seksual terhadap anak di Papua dan Papua Barat yang tercatat selama 2016
adalah 2.000 kasus. ”Namun ini
hanya yang dilaporkan. Seperti
halnya di semua daerah lain, kasus
yang terjadi pasti lebih banyak, seperti
halnya fenomena gunung es”, kata
sarwitri. Birgitta Elna
menambahkan keluarga adalah
benteng pertama dan terkuat untuk mencegah Kekerasan terhadap Perempuan dan
Anak. ”Rumah Tangga yang sehat dan
ramah anak adalah syarat penting bagi tumbuhnya pribadi mandiri yang bisa yang
bisa menjadi agen perubahan dalam menciptakan lingkungan sosial yang kondusif
bagi perempuan dan anak”, katanya.
http://peloporwiratama.co.id/2017/10/21/komitmen-terhadap-perlindungan-perempuan-dan-anak-polda-papua-barat-gelar-lokakarya/
